namaku Pelangi

March 3, 2009

Aku mencintai langit dan segala sesuatunya. Kamu tahu? Aku adalah pelangi. Aku hanya akan datang jika mendung menaungi, dan bahkan ketika langit menangis. Sebuah luka. Yah. Sebuah luka yang nampaknya membuat hati selalu gundah. Sakit tak terperi. Dan bahkan, mungkin aku akan mengunjungimu jika bias-bias cahaya yang ditebarkan oleh sahabatku dikala terik, dia matahari, dan ketika langit terhujam gelap, dia bulan. Aku adalah hiasan jika sang wajah bermuram durja. Hiasan yang akan mencerahkan sang penduka. aku penuh warna. dan kurasa akan membuatmu nampak indah. Tersenyumlah wahai sayangku. Ingatlah aku, si Pelangi. Berjanjilah, kita akan selalu bertemu. Di ujung mimpi. Di ujung pengharapan.

Advertisements

Biru

March 3, 2009

ah biru..
kenapa engkau tak hendak beranjak dariku
bergelayut kesana kemari
seperti ilalang yang dibuai-buai angin
menaungiku berlama-lama
seperti baju

biru..
tau kah engkau?
aku sedang tidak berduka
engkau bukanlah luka
hanya saja, aroma haru menumpuk dipelupuk mataku, hari ini
maka, pergilah bergabung bersama pelangiku
engkau bukanlah luka, pergilah

dan aku akan menanti dengan sabar
disini, di taman ini
hingga engkau, biru, menjadi background indah bagi pelangiku
hingga engkau, biru, menjadi iris baru dalam pelangiku yang fantastis
aku akan menatapmu dari sini saja
sembari membuatkan syair cinta untuk Dia
maka sampaikanlah
sampaikan betapa aku mencintaiNya
sampaikan betapa, ah, betapa besarnya nikmat yang Dia berikan padaku hari ini.. hingga ku tak sanggup lagi berucap terimakasih padaNya
maka tolong,biru, sampaikan lah

wahai biru,
teruskan pesonamu disana, bersama pelangiku
sebagai kado cinta untukNya
dan aku memilih disini saja
duduk di taman yang kutanami bunga-bunga inda
melihatmu, menatapmu, tersenyum padamu
sembari ku bacakan baitbait syair cinta untuk Nya
tetaplah engkau, biru,.. tetaplah berhias disana
aku pasti selalu ada disini..
tak akan pergi, lagi
aku berjanji

Celoteh Pelangi

March 3, 2009

di pagi buta, menyambut hari. 20 tahun lalu kurasa. kokokan ayam jantan membangunkanku. suaranya yang nyaring membisingkan telinga, hingga dengan malas aku mulai menggeliat. mungkin dia menginginkan aku untuk meyaksikan perubahan langit di pagi hari. di ujung timur. ku beranjak dari tempat tidur dan ku buka jendela kamarku. ah segarnya. suatu saat nanti aku pasti merindukan semua ini.

lalu… ku hampiri ibuku yang sudah terjaga. dengan manja ku bergelayut dilengannya. ku berkata, ” ibu, aku menyayangimu..sepenuh hati. hingga mati. dan sampai akhirat nanti. aku ingin memamerkannya kepada Tuhan. betapa aku mencintaimu ibu. perempuan teristimewa yang dianungrahkan Tuhan kepadaku sebagai ibuku.” ibuku terseyum. ” ibu juga menyayangimu nak.. bersyukurlah. nikmat Tuhan itu tak terbatas..mari kita bersujud pagi. menyukuri nikmat Nya atas kelegaan nafas yang Dia berikan pagi ini”. lalu..lalu.. bersama ibu, ku basuh tubuhku bersuci diri untukmenghadap Nya.”

di ujung doa, ku berkata pada Nya, “tuhan.. terima kasih.. engkau telah mengizinkan aku terlahir dari rahim ibuku, sebagai buah cinta ayah kepadanya. dan terimakasih Tuhan, telah mengizinkan aku menjadi seorang adik dari seorang laki-laki kecil yang selalu melindungiku. Terimakasih Tuhan, aku tercipta dengan cinta, terlahir dengan cinta, dan hidup dalam naungan cinta…Tuhan.. terimakasih untuk segalanya.. Amin.”
seusai sujud pagi, aku kembali menghampiri ibu. dan bertanya, ” bu, mengapa aku terlahir seperti ini? sebagai anak yang periang, tidak bisa diam, dan…ah.. ibu… aku begitu malu.. mengapa aku bandel ya ibu?”
ibuku terseyum,”kamu terlahir dengan doa, anakku.. disetiap detak jantungmu, doa kami menyertaimu.. disetiap tarikan nafasmu, cinta kami menaungimu. dan Janganlah lupa akan Tuhan mu nak…”
“tapi ibu, apakah kebandelanku karena apa?”
“anakku.. mungkin dulu waktu ibu mengandungmu, ibu kebanyakan makan ulet kadut nak..,” hemmm.. ibuku terseyum cantik sekali.
“ah ibu.. aku begitu menyayangimu.. aku akan selalu menjagamu ibu, aku juga akan selalu menjaga ayah hingga diriku ini sudah tidak mampu mengusung raga ini. aku akan menjaga ibu dan ayah, bersama kakak, ibu.. aku berjanji bu..”
“anakku, buah hatiku…ibu yakin kau pasti akan menepatinya..ibu menyayangimu nak”
aku dan ibu saling bertatap.. tatap penuh harap, ini bukanlah sekedar cinta yang hanya akan mengendap…hilang menjadi kenangan.cinta ini abadi.

 

Tak Bertepi

March 3, 2009

Wahai malam, perlahan kau mencoba meyakinkan aku

bahwa…

langit tak bertepi

pelangi tak bertepi

jika bertepi, apa ini adalah akhir dari semuanya?


aku sudah memohon padamu wahai malam
untuk bertak lama-lama menggenggamku
aku sudah meminta padamu wahai malam
untuk tak membuatku berhenti menangis dibahumu
biarkan..
biarkanlah..
terus seperti ini..
sesaat lagi..

karena..
aku takut..
jika semua ini terhenti dan menjadi tepian
aku akan lenyap
maka janganlah pernah…

Mendung

March 3, 2009

angin perlahan mendingin…

perlahan dia bergerak..

 bergerak ke utara..

sesekali dia menebar hempasannya mengangkat debu-debu… menggugurkan daun-daun yang kering dan bahkan menebarkannya kesegala penjuru dan langit…

langit biru yang menaungiku itu perlahan berubah menjadi abu-abu dan menggelap petir…

ia pun turut andil menggelegar tak mau tau…

maafkan aku hujan kali ini aku berharap salju yang turun..

tapi sayang..

butirannmu yang lembut dan tajam itu datang..

membasahi wajahku yang telah berlinang..

Menunggu

March 2, 2009

menunggumu..
sedari tadi..
kemarin…
lusa..
dulu.

tetap disini, ditempat ini..
dibalik jeruji jendela kamarku.

sudah kah angin menyampaikan rinduku padamu sayangku?
bahwa aku…aku menunggumu
disini..
ditempat yang sama, kala pertemuan terakhir kita.
dengan mata yang sama, senyuman yang sama.. dgn kerinduan yang tak berbeda.

dan desis angin yang sedikit melantang
menggugah lamunanku semalam..
seakan mengatakan padaku, kau akan datang…

oh terimakasih kasih sayangku..
penantianku tak akan pernah sia-sia
menantimu, selalu, ditempat yang sama…dgn mata dan senyuman yang tak berubah.,,
terimakasih wahai sayangku…
walau kau datang dengan kebekuan
tapi…
rinaimu cukuplah indah untuk membahagiakanku.

terimakasih hujan… 🙂